Warga – Komunitas Peringati HUT ke-74 RI di Museum HM Soeharto

YOGYAKARTA – Momentum HUT ke-74 Kemerdekaan RI, dimanfaatkan oleh sejumlah komunitas sepeda ontel (kayuh) di Kabupaten Sleman, dengan bersepeda ria. Tak sekadar berwisata, dalam kegiatannya itu mereka juga mengunjungi museum bersejarah, Memorial Jenderal Besar HM Soeharto.

Keberadaan komunitas pecinta sepeda ontel, tersebar di hampir semua desa di Yogyakarta. Nostalgia zaman lampau, agaknya menjadi motivasi tersendiri bagi warga untuk membentuk sebuah komunitas.

Begitu banyak kenangan bersejarah terkait sepeda ontel ini. Bahkan, sepeda ontel khas ‘Jawa’ yang dalam bahasa Jawa disebut ‘pit jowo’, menjadi bagian sejarah penting dari perang kemerdekaan RI.

Pada masa perang, sepeda menjadi alat transportasi penting. Presiden Soeharto pun menggunakannya ketika melakukan koordinasi dalam mengatur strategi perang gerilya, yang melibatkan banyak kompi di pos-pos yang jaraknya saling berjauhan. Sepeda ontel juga masih menjadi alat transportasi utama hingga 1980-an.

Sejumlah warga dari Dusun Mejing Kidul, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, tampak antusias menyimak penjelasan autobiografi HM Soeharto dan pemutaran film sejarah di pendopo utama Museum HM Soeharto di Dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Minggu (18/8/2019). –Foto: Gatot Nugroho

Kenangan akan zaman keemasan sepeda ontel itulah, yang membuat komunitas sepeda ontel di Kota Sejarah Yogyakarta terus berkembang. Dan, setiap komunitas memiliki ciri khas atau gaya tersendiri. Misalnya, semua pesertanya mengenakan busana adat Jawa. Bahkan, ada yang berpakaian ala tentara RI zaman perang gerilya.

Dalam setiap kegiatannya, komunitas sepeda ontel ini memanfaatkan hari-hari libur. Seperti pada momentum hari libur HUT ke-74 Kemerdekaan RI, yang baru lalu. Sejumlah komunitas sepeda ontel dari banyak desa di Sleman, berkonvoi penuh semangat dan singgah di Memorial Jenderal Besar HM Soeharto (Museum HM Soeharto). Salah satunya, Komunitas Sepeda Ontel Pendowo dari Dusun Sebaran, Sidoarum, Godean, Sleman.

Dengan busana adat Jawa, Komunitas Pendowo sengaja singgah di Museum HM Soeharto, untuk mengenang Presiden ke-2 RI. Peran besar presiden legendaris asal Dusun Kemusuk ini, memang masih sangat lekat di benak masyarakat. Karenanya, Museum HM Soeharto di Dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, tidak pernah sepi pengunjung. Terlebih, pada setiap momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI.

Selain Komunitas Pendowo, sejumlah warga dari Dusun Mejing Kidul, Ambarketawang, Gamping, Sleman, juga mengunjungi Museum HM Soeharto untuk memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan RI.

Tentu saja, warga sekitar museum tak ketinggalan datang berkunjung. Bahkan, warga Dusun Kemusuk Lor, ramai-ramai menggelar jalan sehat menuju Museum HM Soeharto dan mengadakan berbagai kegiatan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI.

Sebagaimana setiap pengunjung yang datang, mereka dipandu oleh edukator museum untuk mengetahui dan memahami sejarah bangsa ini. Utamanya, peran Soeharto, sejak zaman perang hingga menjadi presiden dan mengisi pembangunan hingga sukses mencapai swasembada beras. Seperti diketahui, hingga era reformasi ini, swasembada beras hanya tercapai di era Presiden Soeharto.

Warga Dusun Kemusuk Lor, Argomulyo, Sedayu, Bantul, menggelar jalan sehat dan mengadakan berbagai kegiatan untuk memeriahkan HUT ke-74 Kemerdekaan RI di Museum HM Soeharto, di Dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (17/8/2019). –Foto: Gatot Nugroho

Maryati dan Devi, dua edukator museum, secara bergantian memandu para pengunjung yang datang pada momentum HUT ke-74 Kemerdekaan RI, Sabtu-Minggu (17-18/8/2019). Sejumlah siswa dari SMK Negeri 1 Sewon, Bantul, yang saat itu tengah menjalani praktik kerja lapangan (PKL), turut membantu tugas-tugas edukator.

Edukator memberikan penjelasan tentang museum, riwayat hidup Soeharto sejak kecil sebagai anak petani, yang di kemudian hari menjadi Presiden ke-2 Republik Indonesia.

Sementara itu, penjelasan autobiografi HM Soeharto dan pemutaran film sejarah, dilangsungkan di pendopo utama museum. (Pewarta: Gatot Nugroho)

Leave A Reply

Your email address will not be published.