Belajar Sejarah dan Nasionalisme di Museum HM Soeharto

YOGYAKARTA – Jiwa nasionalisme yang kuat, antara lain bisa tumbuh karena pendidikan sejak dini. Ada pun caranya, dapat dengan mengunjungi museum sejarah, seperti Memorial Jenderal Besar HM Soeharto. Selain menyenangkan, nilai-nilai patriotisme dan kejuangan dapat ditanamkan.

Lebih dari 300 siswa pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar di Kabupaten Sleman dan Kulon Progo, mengunjungi Memorial Jenderal Besar HM Soeharto. Mereka menggelar berbagai kegiatan, seperti senam bersama dan belajar sejarah melalui film dan diorama.

Para siswa ini berasal dari Pondok Pesantren Mutiara Hati, Desa Banyuraden,  Gamping,  Sleman, dan Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Sejenis (SPS) Tunas Harapan Pare 3, Godean,  Sleman, serta Sekolah Dasar Negeri (SDN) Suroloyo, Semagung, Kalibawang, Kulon Progo.

Sejumlah siswa dari Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Sejenis (SPS) Tunas Harapan Pare 3, Godean,  Sleman, Yogyakarta, tampak antusias menyaksikan patung kerbau dengan dua anak gembala, yang menggambarkan masa kecil HM Soeharto, di halaman depan Musem HM Soeharto, Kamis (22/8/2019). –Foto: Gatot Nugroho

Anak-anak hebat ini dengan semangat belajar, berbaris dengan rapi dan wajah penuh keceriaan. Rombongan yang datang pada Kamis (22/8/2019) pagi ini dipandu oleh Maryanti, selaku edukator museum. Dua siswa SMKN 1 Sewon, Bantul, yang tengah melakukan praktik kerja lapangan (PKL) di musuem, yakni Ambar dan Anifa, turut membantu memberikan berbagai penjelasan tentang musuem kepada 320-an anak tersebut.

Agenda pertama dilakukan di Pendopo Utama Museum. Anak-anak diajak senam bersama untuk menambah semangat dan suasana gembira. Kemudian, mereka diajak untuk menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’.

Usai senam dan menyanyikan lagu kebangsaan, anak-anak dipersilakan menonton film hiburan yang mengandung nilai edukasi. Usai pemutaran film hiburan, edukator museum mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu ‘Guru Tercinta’. Lagu ini dipersembahkan bagi para guru yang selama ini telah mendidik dan mendampingi anak-anak dengan iklhas.

Sesudah itu, tibalah acara inti, yakni menyaksikan film sejarah Bapak Bangsa, Bapak Pembangunan Indonesia, Jenderal Besar HM Soeharto. Sekira satu setengah jam kemudian, anak-anak dipersilakan memasuki ruang diorama, dengan dipandu edukator museum.

Diorama berisi berbagai foto dan fragmen sejarah dalam bentuk patung, yang mengisahkan peran penting HM Soeharto sejak zaman kemerdekaan, menjadi Presiden ke-2 RI, dan pencapaian hasil pembangunan di masa kepemimpinannya.

Para siswa dari Pondok Pesantren Mutiara Hati, Desa Banyuraden,  Gamping,  Sleman, Yogyakarta, didampingi guru foto bersama di Museum HM Soeharto, Kamis (22/8/2019). –Foto: Gatot Nugroho

Setelah itu, anak-anak dipersilakan mengelilingi museum, melihat petilasan tempat lahir HM Soeharto dan sumur peninggalan. Anak-anak yang ingin bersenang-senang di kompleks museum, juga bisa melihat patung kerbau, yang menggambarkan HM Soeharto pada waktu kecil. Juga dapat membaca buku-buku menarik yang disediakan di perpustakaan mini.

Diharapkan, setelah mengunjungi museum, anak-anak dapat memahami dan lebih menghargai jasa pahlawan, mengambil suri teladan, sehingga tertanam jiwa nasionalisme yang kuat dan menjadi generasi muda yang berkarakter kebangsaan. (Pewarta: Gatot Nugroho)

Leave A Reply

Your email address will not be published.