MASA KECIL

92 tahun yang lalu, tepatnya pada hari Rabu Kliwon 8 Juni 1921/1 Syawal 1339 H. Di komplek memorial ini yang terletak di Desa Kemusuk, lahirlah seorang anak yang di beri nama Soeharto dari pasangan bapak Kertosudiro dan ibu Sukirah. Soeharto lahir di sebuah Sentong atau kamar, yang pondasinya masih tersisa dan sampai sekarang masih tetap dipertahankan. Perkawinan kedua orangtua Soeharto tidak berlangsung lama. Ketika Soeharto kecil keduanya bercerai. Kemudian Soeharto diasuh oleh Mbah Kromodiryo seorang dukun bayi di Kemusuk ini. Setelah bercerai ibu Sukirah menikah lagi dengan bapak Purnama (Atmopawiro) dan mempunyai 7 (tujuh) anak yang salah satunya adalah bapak H. Probosutedjo. Silsilah lengkap bisa dilihat di depan bangunan Diorama.

Setelah berumur 4 tahun, Soeharto diambil oleh ibunya dari Mbah Kromodiryo dan diasuh sendiri oleh ibu Sukirah. Soeharto menempuh Sekolah Rakyat (SR) di Puluhan, Pedes dan Tiwir yang letaknya di sekitar Kemusuk dari tahun 1929-1931. Kemudian atas keinginan ayahnya bapak Atmopawiro , Soeharto dititipkan kepada bibinya (istri dr Prawiroharjo seorang mantri pertanian) di Wuryantoro, Wonogiri. Setelah menamatkan pendidikan dasar, Soeharto melanjutkan sekolah ke Schakel Scholl di Wonogiri dan Schakel Muhammadiyah di Yogyakarta yang di selesaikannya pada tahun 1939.