MEMASUKI KETENTARAN

Satu tahun setelah menyelesaikan pendidikannya, pada tahun 1940 Pak Harto berkerja sebagai pembantu klerk pada Volks Bonk (bank desa) di Wuryantoro tetapi Pak Harto kurang menyenangi pekerjaan ini. sehubungan dengan itu Pak Harto berhenti berkerja di bank dan ikut test ujian masuk Kopral Koninkelijik Nederlandsch – Indische Leger = KNIL (Tentara Kerajaan Belanda). Pak Harto diterima sebagai kopral dan lulus dengan nilai terbaik (1940). Karena kehebatannya, pada tahun 1941 Pak Harto dikirim ke Sekolah Kadet di Gombong untuk mendapatkan pangkat sersan. Setelah lulus dan mendapatkan pangkat sersan, Pak Harto ditugaskan ke Bandung. Penugasan ke Bandung dengan sendirinya berakhir ketika Belanda menyerah kepada Jepang.

Pada awal masa pemerintahan Jepang (1942), Pak Harto diterima sebagai keibuho (polisi) dengan nilai terbaik. Pada tahun 1943 Pak Harto diterima menjadi shodanco (Komandan Pleton) Tentara Pembela Tanah Air (PETA) dan ditempatkan di Wates, dan kemudian di Glagah, Pantai Selatan Yogyakarta. Setahun kemudian (1944) Pak Harto diangkat menjadi chudanco (Komandan Kompil) dan di Markat Besar PETA di Solo. Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 5 Oktober 1945 dibentuklah Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Di Yogja dibentuk Divisi IX, pasukan bawah Divisi IX dan Pak Harto diangkat menjadi Komandan Batalyon X dengan pangkat Mayor. Selanjuntnya pada tahun 1948, Pak Harto dipercaya sebagai Komandan Brigade X (Brigade Mataram) Wehrkreise III dengan pangkat Letnan Kolonel yang membawahi wilayah Yogyakarta.