PENUGASAN DAN KARIR MILITER

Serangan Umum 1 Maret

Serangan Umum 1 Maret 1949 merupakan puncak serang-serangan TNI bersama rakyat sebagai balasanan terhadap Agresi Militer Belanda II ke Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948. Serangan Umum 1 Maret 1949 dari berbagai penjuru kota Yogyakarta dipimpin oleh Letkol Soeharto, Komandan Brigade 10 Wehrkreise III yang dimulai pada pukul 06.00 pagi (ketika mendengar suara sirene sabagai tanda berakhirnya jam malam) dan berakhir pada pukul 12.00 siang. Selama 6 (enam) jam TNI dan rakyat berhasil menguasai kota Yogyakarta. Atas keberhasilan ini, Jendral Sudirman memberikan apresiasi dengan menyebut bahwa “Letkol Soeharto merupakan Bunga Pertempuran.” Keberhasilan ini membuktikan kepada dunia Internasional, khususnya Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan rakyat Indonesia masih mampu mengadakan serangan ofensif.

Serangan ofsensif ini mendukung perjuangan diplomasi Indonesia dan membuat Belanda bersedia mengadakan perundingan-perundingan selanjutnya dan menarik diri dari kota Yogyakarta, bahkan pada akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 Belanda mengakui atau menyerahkan Kedaulatan kepada Indonesia.

Komando Mandala Pembebasan Irian Barat

Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dibentuk pada tanggal 2 Januari 1962 dengan tugas merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi-operasi militer untuk merebut Irian Barat ke dalam wilayah Republik Indonesia.

Sebagai Panglima Komando Mandala diangkat Brigadir Jendral Soeharto (kemudian dinaikan pangkatnya menjadi Mayor Jendral), dengan dibantu oleh Kolonel (Laut) Soebono sebagai wakil panglima I, Kolonel (Udara) Leo Wattimena sebagai Wakil Panglima II, dan Kolonel Ahmad Taher sebagai Kepala Staf Gabungan. Perjuangan militer Komando Mandala yang dilaksanakan bersama dengan perjuangan diplomasi berhasil memaksa Belanda untuk mengadakan perundingan dengan Pemerintah Republik Indonesia. Perundingan diadakan di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada tanggal 15 Agustus 1962 yang kemudian dikenal dengan New York Agreement atau Persetujuan New York.

G 30 S/PKI dan Kesaktian Pancasila

Pada tanggal 30 September 1965 Parta Komunis Indonesia (PKI) melancarkan gerakan perebutan kekuasaan terhadap Pemerinthan Republik Indonesia dengan nama Gerakan Tiga Puluh September yang kemudian dikenal dengan G 30 S/PKI. Di Jakarta, G 30 S/PKI menculik dan membunuh 6 (enam) perwira tinggi (Jendral) Angkatan Darat yaitu:
1. Letnan Jenderal Ahmad Yani.
2. Mayor Jenderal R. Soprapto.
3. Mayor Jenderal Harjono Mas Tirtodarmo.
4. Mayor Jenderal Suwondo Parman.
5. Brigadir Jenderal Danald Izacus Pandjaitan.
6. Brigadir Jenderal Soetojo Sismomihardjo.
Seorang ajudan Jendral A. H. Nasution, Letnan Satu Pierre Andreas Tandean dan seorang putri Jendral A. H. Nasution, Ade Irma Suryani Nasution dan seorang pengawal Waperdam J. Leimena, Brigadir Polisi Karel Sasuit Tubun. Di Yogyakarta, G 30 S/PKI menculik dan membunuh Komandan dan Kepala Staf KOREM 072 Yogyakarta, yaitu Kolonel Katamso Dharmokusumo dan Letnal Kolonel Sugijono Mangunwijoto.

Pada tanggal 2 Oktober 1965 Mayor Jendral Soeharto, panglima KOSTRAD berhasil menguasai kembali keadaan Kota Jakarta. Setelah berhasil menguasai Kota Jakarta, Mayor Jendral Soeharto segera mebuat laporan kepada Presiden Soekarno yang isinya bahwa situasi Kota Jakarta dapat dikuasai dan pertempuran darah dapat dihindarkan. Sehari kemudian, pada tanggal 3 Oktober 1965 memalui pidato RRI, Presiden Soekarno menujuk Mayor Jandral Soeharto untuk memulihkan keamaan dan ketertiban terkait dengan peristiwa G 30 S/PKI. Pada tanggal 14 Oktober 1965 Mayor Jandral Soeharto diangkat sebagai Menteri atau Panglima Angkatan Darat mengantikan Letnan Jenderal Ahmad Yani dan pelantikan dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 1965. Selanjutnya pada tanggal 1 Nopember 1965 Mayor Jenderal Soeharto secara resmi ditunjuk sebagai Panglima Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban dengan Keputusan Prasider Nomor 142/KOTI/1965 yang berlaku surut tanggal 1 Oktober 1965.

Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban serta penumpasan terhadap G 30 S/PKI segera dilaksanakan di Jakarta maupun di daerah-daerah. Keberhasilan penumpasan dan pemulihan terhadap keamanan serta ketertiban yang dipimpin oleh Mayor Jendral Soeharto adalah berkat dukungan Angkatan Bersenjata Rapublik Indonesia (ABRI), organisasi politik, oerganisasi kemasyarakatan, dan rakyat yang setia kepada Pancasila. Ini semua merupakan bukti kesetiaan dan kesaktian Pancasila. Patriotisme beliau untuk menjadikan pedoman bernegara diupayakan dengan mamasyarakatkan Pancasila melalui pendidikan.