Lebih 1.000 Pelajar di Yogyakarta Peringati HAORNAS di Museum HM. Soeharto

YOGYAKARTA – Lebih dari 1.000 pelajar tingkat sekolah dasar dan menengah pertama di Yogyakarta, menggelar acara jalan sehat bersama, memperingati Hari Olah Raga Nasional (HAORNAS) 2019. Para pelajar ini berjalan kaki dari titik kumpul menuju Memorial Jenderal Besar HM Soeharto di Kemusuk.

Museum HM Soeharto di dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, menjadi pusat digelarnya hari olah raga nasional bagi 1.250 siswa pelajar sekolah dasar dan menegah atas dari sejumlah kecamatan di Sleman dan Bantul.

Mereka berasal dari SDN Gunung Mulyo, Argomulyo, Kecamatan Sedayu,  Bantul, SDN Godean 2, SDN Semarangan 5,  SDN Krajan, SDN Brongkol, SD BOPKRI 1 dan BOPKRI 2, Godean, SD Muhammadiyah Sidokarto,  SD Muhammadiyah Sidomulyo,  Kecamatan Godean,  dan SMPN 1 Moyudan, Sleman.

Seribu lebih pelajar tersebut, sebelumnya berkumpul di lapangan untuk bergabung dengan masing-masing gugus, untuk kemudan berjalan kaki menuju Museum HM Soeharto.

Didampingi para guru, siswa SD dan SMP ini lalu menggelar acara puncak di musuem, sekaligus belajar tentang sejarah Bapak Bangsa, Bapak Pembangunan Nasional, HM. Soeharto.

Para siswa SMPN I Moyudan, Godean, Sleman, Yogyakarta, antusias mendengarkan penjelasan edukator di Pendopo Utama Museum HM Soeharto, dalam peringatan HAORNAS, Senin (9/9/2019). –Foto: Gatot Nugroho

Rombongan putra-putri generasi penerus bangsa ini dipandu oleh Kepala Museum HM Soeharto, H. Gatot Nugroho, S.Pt., bersama edukator museum Devi, dibantu dua mahasiswa STIPRAM Yogyakarta, Aldi dan Irwan.

Gatot Nugroho mengatakan, secara bertahap para siswa ini diajak masuk ke pendopo utama untuk mendapatkan edukasi tentang museum, dan sejarah autobiografi Bapak Pembangunan Nasional HM. Soeharto.

“Program pertama, anak-anak diajak menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu ini dinyanyikan bersama, dengan harapan agar anak-anak lebih semangat dan bangga menjadi anak Indonesia. Dan, jiwa kebangsaan serta rasa nasionalisme akan makin melekat, seiring dengan tumbuh dan berkembangnya kepribadian mereka,” kata Gatot Nugroho, Senin (9/9/2019).

Sementara itu, di pendopo utama, edukator museum menyajikan film hiburan, sembari menjelaskan tentang sejarah HM. Soeharto.

Selanjutnya, mereka diajak berkeliling ke ruang diorama museum, dan melihat petilasan tempat lahirnya Bapak Bangsa, sekaligus menengok sumur tua peninggalan Eyang Atmo Sudiro.

Peringatan HAORNAS 2019 di Museum HM Soeharto, terasa sangat bermakna. Juga sangat bersejarah, mengingat penetapan HAORNAS yang dilatarbelakangi oleh upaya Pemerintah RI dalam menegakkan harkat dan martabat bangsa di mata dunia.

Seperti diketahui, HAORNAS ditetapkan oleh Presiden Soeharto pada 1983. Ketika itu bangsa ini baru saja merdeka, sehingga berbagai upaya untuk menegakkan harkat dan martabat bangsa dan negara di mata dunia, melalui berbagai bidang, menjadi hal yang sangat krusial.

Presiden Soeharto menetapkan tanggal 9 September sebagai HAORNAS, dilatarbelakangi oleh digelarnya Pekan Olah Raga Nasional (PON) I di Surakarta, Jawa Tengah, pada 9 September 1948.

Saat itu, Presiden Soekarno menggelar PON sebagai upaya menegakkan harkat dan martabat negara, setelah Indonesia ditolak Inggris untuk mengikuti Olimpiade XIV. Inggris yang merupakan sekutu Belanda, pada tahun tersebut masih belum mau mengakui kemerdekaan Indonesia. Inggris saat itu juga menganggap Indonesia belum memiliki prestasi di bidang olah raga, sehingga tidak layak mengikuti Olimpiade.

Para siswa SDN Brongkol, Sidomulyo, Godean, Sleman, Yogyakarta, melepas lelah sambil menyaksikan film hiburan di Pendopo Utama Museum HM Soeharto, dalam peringatan HAORNAS, Senin (9/9/2019). –Foto: Gatot Nugroho

Tidak terima dengan penolakan tersebut, Pemerintah Indonesia kemudian menggelar konferensi darurat di Surakarta, untuk mengadakan PON. Perlombaan olah raga nasional ini dimaksudkan untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesia yang baru saja merdeka mampu menggalang persatuan dan kesatuan, dan memiliki keahlian di bidang olah raga.

Untuk pertama kalinya, Pekan Olah Raga Nasional kemudian diselenggarakan di Stadion Sriwedari, Surakarta, Jawa Tengah, pada 9-12 September 1948. Presiden Soekarno dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX membuka secara resmi PON I tersebut.

Mengingat latar belakang sejarah digelarnya PON I, Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, menetapkan tanggal 9 September sebagai Hari Olah Raga Nasional (HAORNAS). Penetapan ini diperkuat dengan Keppres Nomor 67 Tahun 1985.

Sebelumnya, Presiden Soeharto pada 1983 telah terlebih dahulu mencanangkan Gerakan Nasional tentang Panji Olah Raga. Salah satu motto yang paling populer dan fenomenal dari Panji Olah Raga ini adalah “Mengolahragakan Masyarakat, dan Memasyarakatkan Olah Raga”.

Presiden Soeharto menyadari pentingnya olah raga untuk membangun sumber daya manusia, generasi penerus bangsa yang berkualitas. Prestasi olah raga juga menyangkut harkat dan martabat bangsa, sehingga Presiden Soeharto gencar memajukan prestasi olah raga di tingkat nasional maupun internasional. (Pewarta: Gatot Nugroho)

Leave A Reply

Your email address will not be published.