Paguyuban Prolanis Purworejo Senam Sehat di Museum HM Soeharto

YOGYAKARTA – Momentum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI, agaknya menjadi pemantik rasa rindu akan sosok Presiden ke-2 RI, HM Soeharto, yang terus berulang setiap tahun. Hal demikian setidaknya terlihat dari tingginya animo masyarakat berkunjung ke Museum HM Soeharto, dalam momentum peringatan HUT RI.

Pada momentum HUT ke-74 Kemerdekaan RI, jumlah pengunjung di museum mencapai 1.150 orang. Banyaknya pengunjung dalam satu hari, menunjukkan betapa masyarakat dari berbagai daerah masih merindukan sosok presiden asal Dusun Kemusuk tersebut.

Sebanyak 1.150 pengunjung, sebagian besar datang berombongan. Mereka berasal dari Purworejo, Jakarta, Bandung  Banten, Malang dan Surabaya. Bahkan, ada pengunjung yang berasal dari luar Jawa.

Di museum ini, para pengunjung yang datang berombongan biasanya mengadakan acara sebagai pelengkap kegiatan. Seperti yang dilakukan oleh rombongan pengunjung dari Paguyuban Bina Sehat Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Paguyuban Prolanis, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menyaksikan pemutaran film sejarah HM Soeharto di Pendopo Utama Museum HM Soeharto, Minggu (18/8/2019). -Foto: Gatot Nugroho

Paguyuban Prolanis di bawah pendampingan Unit Pelaksana Teknis Pusat Kesehatan Masyarakat (UPT Puskesmas) Kecamatan Bener, tersebut, menggelar acara senam sehat bersama di halamam museum, Minggu (18/8/2019).

Usai senam sehat bersama, acara yang dikoordinatori oleh Sugiono, itu kemudian disambung dengan penyuluhan program sehat lansia dari Tim Puskesmas Bener.

Museum HM Soeharto terbuka untuk umum. Masyarakat diperkenankan menggelar acara di kompleks museum, tanpa dipungut biaya.

Usai senam sehat dan penyuluhan kesehatan, rombongan yang terdiri dari para lansia ini kemudian beramah tamah dengan pengelola museum. Suasana kekeluargaan terasa sangat kental. Di museum ini, pengelola seperti berperan sebagai tuan rumah yang menyambut pengunjung sebagai ‘tamu agung’. Tamu yang dalam adat Jawa selalu harus dihormati, tanpa membeda-bedakan status dan latar belakang apa pun.

Seperti diketahui, HM Soeharto memang juga dikenal sangat lekat dengan budaya, dan menjunjung tinggi adat dan tradisi Jawa. Hal demikian pun menurun kepada anak-anaknya, yang hingga kini selalu menyelenggarakan hajatan apa saja sesuai adat Jawa.

Setelah beramah-tamah, rombongan kemudian diberikan penjelasan tentang museum. Mulai dari berdirinya museum, bagian-bagian museum, dan tentu saja juga riwayat HM Soeharto sejak kecil hingga akhir hayatnya.

Dalam penjelasannya, Maryanti sebagai edukator museum, dibantu sejumlah rekan sejawat, mengatakan, bahwa Museum HM. Soeharto  dibangun oleh adik almarhum, yaitu H. Probosutedjo.

Pada intinya, museum didirikan agar masyarakat mengetahui, bahwa HM Soeharto adalah anak desa yang lahir di Desa Kemusuk, pernah berjuang untuk bangsa ini, pernah mengabdi dan membangun negeri ini bersama-sama dengan masyarakat.

Paguyuban Prolanis Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, foto bersama di Museum HM Soeharto, Minggu (18/8/2019). -Foto: Gatot Nugroho

Usai penjelasan singkat oleh edukator, rombongan kemudian dipersilakan menonton film sejarah HM Soeharto. Film berdurasi kurang lebih satu jam. Setelah pemutaran film, rombongan masuk ke dalam ruang utama museum, yang berisi diorama sejarah HM Soeharto.

Setelah dari diorama, mereka kemudian berkeliling ke sekitar museum, untuk melihat petilasan rumah kelahiran HM Soeharto. Mereka pun berfoto-foto di teras rumah eyang buyut HM Soeharto. Juga menyempatkan mengambil air dari sumur, yang sudah ada sejak sebelum HM Soeharto dilahirkan.

Air sumur yang dahulu pernah menjadi sumber kehidupan HM Soeharto, hingga kini tak pernah kering. Pengunjung selalu merasa belum afdal, jika tak membasuh muka dengan air sumur peninggalan Eyang Atmo Sudiro, kakek HM Soeharto. (Pewarta: Gatot Nugroho)

Leave A Reply

Your email address will not be published.