Secuil Kisah Masa Kecil Pak Harto di Dusun Kemusuk Bantul

BANTUL — Sebagai salah satu tokoh besar yang dimiliki Indonesia, sosok Presiden Kedua Republik Indonesia Soeharto atau biasa disebut Pak Harto, memang begitu lekat dalam benak masyarakat di seluruh tanah air. Meski begitu, tak banyak catatan sejarah yang menggambarkan kehidupan Pak Harto di masa kecil.

Satu-satunya tempat yang masih menyisakan secuil cerita masa kecil Pak Harto, boleh jadi hanya bisa ditemukan di Dusun Kemusuk Lor, Kelurahan Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Di dusun kecil dengan banyak kompleks persawahan inilah, Pak Harto dilahirkan dan menjalani hidupnya semasa kecil di tengah keluarga petani.

Di sebelah utara jalan Dusun Kemusuk ini, berdiri kompleks bangunan megah, Museum Memorial Soeharto. Kompleks ini merupakan bekas rumah atau tempat tinggal Pak Harto semasa kecil. Didirikan 8 Juni 2013 oleh adik kandung Pak Harto, Probosutedjo, di atas lahan seluas 3620 meter persegi, Museum Memorial Soeharto ini terdiri dari sejumlah bangunan utama. Seluruhnya merupakan bekas rumah keluarga besar Pak Harto yang telah direnovasi.

Sejumlah bangunan itu adalah pendopo berbentuk joglo, ruang pamer yang diberi nama Gedung Atmosudiro di sebelah barat pendopo, serta Gedung Notosudiro di sebelah utara pendopo. Gedung Atmosudiro sendiri merupakan bekas rumah kakek Pak Harto yang bernama Atmosudiro. Sementara Gedung Notosudiro merupakan bekas rumah kakek buyut Pak Harto yang bernama Notosudiro.

Sumur tua yang telah ada sejak sebelum Pak Harto lahir.

“Pak Harto dilahirkan pada 8 Juni 1921 silam. Ibunya bernama Sukirah. Bapaknya bernama Kertosudiro. Kakeknya dari garis ibu bernama Atmosudiro dan kakek buyutnya bernama Notosudiro. Mereka merupakan keluarga petani,” ujar Wakil Kepala Museum Memorial Suharto, Gatot Nugroho, kepada Cendana News, Rabu (1/2/2017).

Gatot menjelaskan, Pak Harto merupakan anak pertama. Dia memiliki 7 saudara seibu. Pak Harto dilahirkan dan dibesarkan oleh ibunya Sukirah di sebuah rumah yang kini berada di kompleks Museum Monumen Soeharto, tepatnya di sisi timur Gedung Notosudiro. Saat ini bangunan rumah itu telah direnovasi menjadi sebuah bangunan pendopo kecil berbentuk Joglo.

“Di rumah inilah dulu Pak Harto dilahirkan dan tinggal. Sebelum dipugar, dulu bangunan rumah ini aslinya berbentuk limasan. Luasnya tidak jauh berbeda dengan bangunan sekarang, yakni 70 meter persegi,” tuturnya.

Tepat di belakang bekas rumah Pak Harto semasa kecil itu juga terdapat sumur tua berusia ratusan tahun yang telah ada sejak sebelum Pak Harto lahir. Sumur sedalam 5-6 meter yang dibuat oleh kakek Pak Harto ini bahkan masih bisa difungsikan sampai saat ini. Airnya tampak berlimpah dan bisa ditimba oleh pengunjung, karena tak pernah kering sepanjang tahun.

Patung Pak Harto setinggi 3,5 meter di depan pintu masuk museum.

“Pak Harto hidup dan tinggal di desa ini sejak lahir hingga umur 12 tahun. Setelah itu, dia ikut bersama bibinya bernama Prawiroharjo dan tinggal di Wonogiri,” jelasnya.

Sebagaimana anak-anak desa keluarga petani pada umumnya, Pak Harto semasa kecil dikatakan hidup dengan sederhana. Pada usia 6 atau 7 tahun ia disekolahkan di sebuah Sekolah Rakyat atau SD Tiwir yang berada tak jauh dari rumahnya. Saat ini SD tersebut masih ada dan berganti mana menjadi SD Menulis, sekitar 500 meter ke selatan dari Museum Memorial Soeharto.

“Sepulang sekolah Pak Harto biasanya mandi dan bermain bersama teman-temannya di sebuah sendang kecil. Sendang itu bernama Sendang Temanten. Saat ini sendang itu juga masih ada dan berada sekitar 300 meter dari sini,” katanya.

Di Sendang Temanten itulah dikatakan Pak Harto kerap memandikan kerbau untuk membajak sawah milik kakeknya. Untuk mengingat masa-masa kecil Pak Harto inilah kemudian dibangun sebuah patung dari perunggu yang berada di kompleks depan Museum Memorial Soeharto. Patung ini berupa dua anak kecil yang tengah berusaha menaiki kerbau yang tengah duduk di tengah kolam yang menggambarkan kehidupan Pak Harto semasa kecil. Di belakang patung itu terdapat tulisan berbahasa Jawa Soeharto Ngguyang Kebo yang berarti Soeharto Memandikan Kerbau.

Gatot Nugroho.

Tak jauh dari kompleks Museum Memorial Soeharto ini, juga terdapat kompleks makam keluarga Pak Harto. Makam ini berada sekitar 300 meter di sebelah timur dari museum. Berada di sebuah bukit kecil inilah, seluruh keluarga Pak Harto baik kakek, orang tua, maupun saudara-saudaranya, dimakamkan.

Sumber: CendanaNews.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.