Museum HM Soeharto, Wisata Sejarah Ramah Anak

YOGYAKARTA – Serombongan siswa taman kanak-kanak tampak asyik menggelar kegiatan belajar, mulai dari mewarnai, menggambar, membuat hasta karya, senam bersama hingga menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ di Museum HM Soeharto, Jumat (24/1/2020).

Pemandangan itu menjadi hal biasa di museum yang menempati lahan petilasan rumah kelahiran Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto. Museum yang dibangun oleh sang adik presiden dari Kemusuk, H Probosutedjo, setiap hari memang tidak pernah sepi pengunjung.

Anak-anak bermain dan bernyanyi dengan riang di pendopo utama Museum HM Soeharto, Jumat (24/1/2020). -Foto: Gatot Nugroho

Diakui, Museum HM Soeharto tak sekadar destinasi wisata sejarah yang sarat muatan pelajaran dan nilai sejarah yang berat. Namun juga menyenangkan bagi anak-anak, bahkan bagi semua kalangan usia dan golongan.

Didukung suasana sejuk, halaman luas dan bangunan pendopo rumah Jawa, museum ini menjadi sangat familiar bagi siapa pun. Berbagai kegiatan dapat digelar, mulai dari acara formal seperti rapat instansi, hingga kegiatan belajar luar ruang (outing class) bagi anak-anak usia dini.

Kepala museum, H Gatot Nugroho, S.Pt., mengatakan, para siswa datang bergelombang menggunakan tujuh kereta mini atau odong-odong. Tercatat sebanyak 275 siswa taman kanak-kanak ini berasal dari wilayah kabupaten Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta. Kedatangan mereka disambut dan dipandu oleh edukator museum, Maryati dan Kaka.

Siswa dan guru TK Suryodiningratan, Kota Yogyakarta, foto bersama di Museum HM Soeharto, Jumat (24/1/2020). -Foto: Gatot Nugroho

“Para siswa ini kita ajak menyanyikan lagu-lagu perjuangan, untuk memupuk dan meningkatkan jiwa nasionalisme mereka,” kata Gatot.

Sementara untuk memberikan suasana menyenangkan dan rileks, edukator museum memutarkan film-film hiburan di pendopo utama. Kemudian dilanjut pemutaran film sejarah Bapak Pembangunan Nasional, HM Soeharto, sembari diberikan penjelasan langsung dari edukator yang ramah.

“Tidak hanya sejarah Presiden Soeharto, para siswa ini juga diberikan penjelasan pentingnya budi perkerti. Mereka juga diajak menyanyikan lagu ‘Guruku Tersayang’, agar anak-anak selalu menyayangi, menghormati dan mengingat jasa-jasa para guru,” ujar Gatot.

Sesudah rangkaian acara di pendopo utama selesai, para siswa diperkenankan memasuki ruang diorama museum, yang menceritakan sejarah HM Soeharto dari masa kecil, masa perjuangan, hingga masa menjadi presiden dan pembangunan, dengan berbagai prestasinya.

Para siswa bersama sejumlah guru pendamping dari TK Riyadus Salihin, Tumut, Sumbersari, Moyudan, Sleman, Yogyakarta, foto bersama di Museum HM Soeharto, Jumat (24/1/2020). -Foto: Gatot Nugroho

Mereka juga diperkenankan melihat petilasan rumah kelahiran Presiden Soeharto, dan sumur peninggalan yang hingga kini airnya tidak pernah surut.

“Dengan mengunjungi museum ini, para siswa diharapkan mampu meneladani kepemimpinan Presiden Soeharto, yang pada masanya berhasil menyejahterakan rakyat, dan menjaga kedaulatan negara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” terang Gatot.

Ada pun para para siswa tersebut, menurut Gatot datang dari TK Riyadus Salihin, Tumut, Desa Sumbersari,  Moyudan, Sleman, TK IT Insan Utama, Gatak, Tamantirto, Kasihan, Bantul dan TK Suryodiningratan, Kota Yogyakarta. (Pewarta: Gatot Nugroho)

Leave A Reply

Your email address will not be published.