Mengenang Sejarah Kelam Pemberontakan PKI

YOGYAKARTA – Mayjen TNI (Purn) Lukman R Boer, mengingatkan kepada generasi muda milenial untuk memahami sejarah kelam bangsa ini, yakni pengkhianatan PKI. Terlebih, paham komunisme hingga kini masih ada, menyusup di mana-mana.

“Ibarat musang berbulu domba, komunisme bisa saja tampil bersurban, namun ideologinya komunis,” demikian Lukman R Boer, saat ditemui di sela pemutaran film G30S PKI, di pendopo utama Museum HM Soeharto, di Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Senin (30/9/2019) malam.

Ketua Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) tersebut juga menegaskan, generasi muda penerus bangsa harus tahu dan memahami sejarah bangsanya, karena orang yang tidak tahu sejarah, berarti orang tidak tahu tujuan.

Lukman R Boer menyebut, beberapa ciri komunisme yang dapat menjadi indikasi bangkitnya paham terlarang tersebut, antara lain cara-cara adu domba, fitnah dan memutar-balikkan fakta.

Senada, Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol Linmas) Kabupaten Bantul, Sumarito, SH., yang hadir dalam acara tersebut juga mengatakan, dari berbagai informasi indikasi bangkitnya komunisme memang ada. Namun, pihaknya mengaku tak bisa memastikan.

Mayjen TNI (Pur) Lukman R Boer menyerahkan buku sejarah kepada sejumlah tamu undangan acara nonton bareng film G30S PKI di Museum HM Soeharto, Senin (30/9/2019). -Foto: Koko T

“Kendati begitu, bagi kita kewaspadaan tetap harus dijaga. Bahwa, sejarah kelam ini tidak boleh terjadi lagi,” katanya.

Untuk itu sebagai upaya cegah tangkal, Sumarito mengatakan, pihaknya selama ini secara intens membina masyarakat, melalui program Jaga Warga, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) dan lainnya.

Ia berharap, dengan pemutaran film sejarah G30S PKI ini, kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya laten komunisme tetap terjaga.

Sementara, Kepala Museum HM Soeharto, Gatot Nugroho, mengatakan, pemutaran film G30S PKI terselenggara berkat kerja sama museum dan yayasan DAKAB serta YKCB.

“Pemutaran film G30S PKI ini juga dihadiri sejumlah tamu undangan. Antara lain, Kabid Pelestarian Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Bantul, Drs. Sapto Priyono, MM., Ketua Barahmus DIY, Ki Bambang Widodo,  dan anggota DPRD Bantul, Arif Haryanto, anggota DPRD DIY, Danang Wahyu Broto, dan muspika kecamatan Sedayu,” katanya.

Komandan Rayon Militer 02/ Sedayu KODIM 0729/ Bantul, Kapten Inf, Diya S. bersama jajaran, saat ditemui di sela acara nonton bareng film G30S PKI di Museum HM Soeharto, Senin (30/9/2019). -Foto: Koko T

Pentingnya mengingat kembali sejarah kelam pemberontakan PKI pada 1965, juga disampaikan oleh Komandan Rayon Militer 02/ Sedayu KODIM 0729/ Bantul, Kapten Inf, Diya S. Menurutnya, masyarakat justru mempertanyakan, mengapa pada tahun ini tidak ada imbauan dari pemerintah untuk melakukan pemutaran film G30S PKI seperti tahun sebelumnya.

Sementara berkait upaya pencegahan, pihaknya selalu mengimbau kepada generasi muda, agar tidak mudah terprovokasi dan tidak mudah diadu domba oleh kelompok-kelompok tak bertanggung jawab, yang akan memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa.

Sebelumnya, pemutaran film G30S PKI di pendopo utama Museum HM Soeharto diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan pembacaan teks Pancasila oleh masyarakat yang hadir.

Pemutaran film sejarah tersebut berlangsung khidmat, dan  masyarakat dari berbagai elemen dan usia tampak antusias menyaksikan.

Rita Kurnia, warga Dusun Kemusuk Lor, Argomulyo, Sedayu, Bantul, mengaku sengaja datang untuk menyaksikan film sejarah tersebut. Menurutnya, dalam film itu ada beberapa adegan yang tampak sadis dan mengerikan.

Ia meyakini, kesadisan yang senyatanya terjadi pasti lebih sadis lagi. Karena itu, ia berharap agar pemutaran film sejarah kelam bangsa bisa terus dilakukan, agar generasi muda penerus bangsa paham, sehingga dapat mencegah peristiwa tersebut terulang kembali. (Pewarta: Koko T)

Leave A Reply

Your email address will not be published.