Jajaran Pimpinan UMB Jakarta Kunjungi Museum HM Soeharto

YOGYAKARTA – Jajaran pimpinan beserta staf dan pengajar serta karyawan Universitas Mercu Buana Jakarta (UMBJ), mengunjungi Museum HM Soeharto di Dusun Kemusuk. Rombongan keluarga besar UMBJ yang dipimpin rektor dan wakilnya, Prof. DR. Ngadino Surip, M.S. dan DR. Hadri Mulya M.Si., sebelumnya mengunjungi UMB Yogyakarta, guna melakukan studi komparasi.

Sebanyak 80 orang terdiri dari rektor, wakil rektor, dosen, dan karyawan serta sejumlah guru bimbingan konseling (BK) UMBJ, mengadakan studi komparasi di UMBY, di Jalan Raya Wates KM 10, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Senin (28/10/2019).

Mami Lestari, S.Psi., mewakili Yayasan Wangsa Manggala, didampingi Rektor UMBY, DR. Alimatus Sahrah, M.Si., M.M., serta jajaran pimpinan lainnya, menyambut kedatangan keluarga besar UMBJ tersebut.

Setelah agenda studi komparasi, keluarga besar UMBJ melakukan ziarah dan doa bersama di makam H. Probosutedjo (alm), pendiri Universitas Mercu Buana dan pendiri Museum HM Soeharto, di Makam Pejuang Soemenggalan, Kemusuk Kidul, Argomulyo, Sedayu, Bantul.

Rektor Universitas Mercu Buana Jakarta (UMBJ), Prof. DR. Ngadino Surip, M.S. dan wakil, DR. Hadri Mulya M.Si., (kanan) serta sejumlah pimpinan lainnya, saat bersilaturahmi di Museum HM Soeharto, di Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Senin (28/10/2019). Tampak rombongan sedang berbincang bersama Mami Lestari, S.Psi., mewakili Yayasan Wangsa Manggala, didampingi Kepala Museum, H Gatot Nugroho (kiri) –Foto: Gatot Nugroho

Usai ziarah makam, rombongan kemudian berkunjung ke Museum HM Soeharto, yang juga merupakan petilasan rumah kelahiran Presiden ke-2 Republik Indonesia.

Selain bersilaturahmi, kunjungan tersebut juga dalam rangka mengenal lebih dalam sosok pemimpin bangsa, Bapak Pembangunan Nasional.

Kepala Museum, H. Gatot Nugroho, S.Pt., mendampingi Mami Lestari S.Psi., menyambut kedatangan rombongan, dan memandu serangkaian acara kunjungan di musuem.

Gatot Nugroho menjelaskan sejarah berdirinya museum, yang dibangun oleh H Probosutedjo, adik HM.Soeharto, sebagai wujud pengabdian seorang adik dan penghargaannya kepada kakak tercinta.

“Filosofi ‘mikul duwur mendem jero’ menjadi spirit H Probosutedjo (alm) dalam pembangunan museum ini,” kata Gatot Nugroho.

Ia menjelaskan, bahwa museum dibangun juga sebagai wahana yang menjelaskan perjuangan dan pengabdian tulus ikhlas dari HM Soeharto untuk Indonesia.

“Etos kepemimpinan HM Soeharto, antara lain tergambar dalam filosofi ‘Sa-Sa-Sa’, yang dibuatkan prasastinya dalam bentuk relief di halaman depan museum,” katanya.

Gatot Nugroho menjelaskan, ‘Sa-Sa-Sa’ merupakan akronim dari kata Sabar Atine, Sareh Tumindake dan Saleh Pikolehe.

“Artinya, seorang pemimpin harus selalu memiliki kesabaran, berjiwa arif dan bijaksana, serta saleh atau selalu dekat kepada Allah SWT,” jelasnya.

Dalam penjelasannya pula, Gatot Nugroho menceritakan sejarah masa kecil HM Soeharto, yang diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi.

Keluarga besar Universitas Mercu Buana Jakarta (UMBJ), antusias mendengarkan penjelasan tentang sejarah HM Soeharto, di pendopo utama Museum HM Soeharto, Senin (28/10/2019). –Foto: Gatot Nugroho

Usai berbagai sambutan dan penjelasan singkat, rombongan kemudian diajak nonton bareng sejarah autobiografi HM Soeharto, yang kemudian dilanjutkan dengan menyusuri ruang diorama.

Di ruang diorama, rombongan tampak mencermati sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949, Operasi Trikora atau pembebasan Irian Barat, peristiwa tragedi berdarah pemberontakan G30S/ PKI dan Kesaktian Pancasila.

Juga sejarah panjang pembangunan Indonesia di masa Orde Baru, mulai dari masa menjadi negara miskin, kemudian menjadi negara berkembang hingga tinggal landas, dan konsisten membangun negeri berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. (Pewarta: Gatot Nugroho)

Leave A Reply

Your email address will not be published.