Museum HM Soeharto tak Sekadar Objek Wisata
YOGYAKARTA – Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, tak sekadar objek wisata sejarah. Namun, juga menjadi tempat pilihan bagi sejumlah kalangan untuk menggelar acara penting. Bahkan, agenda bimbingan teknis (bimtek) peningkatan kapasitas perangkat desa dilangsungkan di museum ini.
Sebanyak 120 peserta terdiri dari Lurah, anggota BPD, Lembaga Kemasyarakatan Desa, Tim Penggerak PKK dan Linmas, Desa Carikan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mengikuti bimbingan teknis peningkatan kapasitas dari tim kabupaten dan kecamatan, di Museum HM Soeharto, Minggu (15/12/2019).
Mereka terbagi dalam tiga kelompok bimtek. Pertama, Kelompok Bimtek Peningkatan Kapasitas Kepala Desa, Perangkat Desa, BPD dan Lembaga Desa. Ke dua, Bimbingan Teknis Lembaga Kemasyarakatan, Linmas, Ketua RW, RT, dan ke tiga, Bimbingan Teknis Tim Penggerak PKK.
Rombongan ini selain melaksanakan bimbingan teknis peningkatan kapasitas dalam melayani masyarakat, sekaligus juga berwisata, mengenang Bapak Bangsa, HM Soeharto, mempelajari dan meneladani perjalanan hidup, kiprah dan prestasi Presiden ke-2 Republik Indonesia, ini sejak masa kecil hingga akhir hayatnya.
Kedatangan rombongan peserta bimtek diterima oleh kepala museum, Gatot Nugroho, yang kemudian terlebih dahulu memimpin jalannya acara kunjungan museum.
Gatot Nugroho memberikan apresiasi yang tinggi kepada pemerintah kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang memilih Museum HM Soeharto sebagai tempat dilangsungkannya bimtek peningkatan kapasitas perangkat desa Carikan.
Kemudian, Gatot Nugroho menjelaskan kepada peserta bimtek tentang museum yang dibangun oleh H. Probosutedjo, adik kandung HM Soeharto, sebagai wujud darma bakti seorang adik kepada sang kakak yang telah berjasa besar bagi negara ini.
Sebuah filosofi Mikul Duwur Mendem Jero dijabarkan oleh kepala museum, juga puisi tentang Gemuruh Kemusuk yang menceritakan tentang perjuangan para pahlawan bangsa yang tanpa pamrih, yang diharapkan bisa menjadi pelajaran berharga dan makin menguatkan jiwa nasionalisme peserta bimtek.
Selain itu, juga dijelaskan sejarah singkat perjalanan hidup HM Soeharto, dengan filosofi kepemimpinan “Sa-Sa-Sa” (Sabar Atine, Sareh Tumindake, lan Saleh Pikolehe). Filosofi ini mengandung arti, bahwa seorang pemimpin harus selalu sabar hatinya, selalu bijaksana dan selalu dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Setelah itu, rombongan dipersilakan nonton bareng film sejarah autobiografi HM Soeharto, dan dilanjutkan keliling museum. Bimtek peningkatan kapasitas perangkat desa kemudian dimulai, usai seluruh rangkaian acara kunjungan museum selesai dilakukan. (Pewarta: Gatot Nugroho)